Mangga (Mangifera indica) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang paling bernilai secara ekonomi dan ekologi di wilayah tropis. Di balik popularitas buahnya yang manis, terdapat sebuah keajaiban biologis yang kompleks dalam proses reproduksinya. Menumbuhkan pohon mangga melalui biji bukan sekadar menanam, melainkan sebuah proses pendampingan siklus hidup yang dimulai dari sebuah embrio kecil di dalam cangkang keras. Memahami setiap tahapan ini sangat krusial bagi para agronom maupun hobiis untuk memastikan keberhasilan pertumbuhan pohon yang sehat dan produktif di masa depan.
Baca Juga:
- Beras Merah: Mahakarya Nutrisi dari Alam, Kunci Menuju Hidup Lebih Sehat
- Lobak: Akar Renyah Penuh Kejutan, Rahasia Detoksifikasi dan Kesehatan Tersembunyi
- Labu Permata Oranye Serbaguna untuk Hidangan Lezat dan Kesehatan Tubuh
1. Tahap Ekstraksi dan Purifikasi Biji
Langkah awal yang menentukan keberhasilan budidaya adalah kualitas biji. Biji mangga harus diekstraksi dari buah yang sudah matang pohon secara fisiologis. Setelah daging buah dipisahkan, biji yang masih terbungkus serat (endokarp) harus melalui proses purifikasi atau pembersihan.
Sisa-sisa glukosa dari daging buah yang menempel harus dihilangkan sepenuhnya menggunakan air mengalir. Hal ini bertujuan untuk mencegah fermentasi dan serangan patogen seperti jamur Diplodia yang sering merusak embrio.
Biji yang bersih kemudian dikeringanginkan tanpa terkena sinar matahari langsung untuk menjaga stabilitas kelembaban di dalam kulit luarnya.
2. Teknik Skarifikasi: Mempercepat Dormansi
Biji mangga memiliki pelindung luar yang sangat keras dan tebal. Dalam kondisi alami, biji memerlukan waktu lama untuk pecah.
Namun, dalam praktik budidaya yang efisien, dilakukan teknik skarifikasi, yaitu proses penyayatan atau pembukaan sedikit cangkang keras menggunakan alat tajam secara hati-hati.
Langkah ini memungkinkan air dan oksigen masuk lebih cepat ke dalam embrio (imbibisi), sehingga masa dormansi biji dapat dipersingkat.
Dengan teknik ini, peluang biji untuk membusuk di dalam tanah akibat terlalu lama mengendap dapat diminimalisir secara signifikan.
3. Fase Imbibisi dan Awal Perkecambahan
Setelah biji ditanam pada media yang gembur (campuran tanah, pasir, dan kompos), fase imbibisi dimulai. Biji akan menyerap air dalam jumlah besar, yang kemudian mengaktifkan enzim-enzim pertumbuhan di dalam embrio.
Dalam waktu 2 hingga 4 minggu, tekanan internal akibat pembengkakan embrio akan memicu munculnya radikula atau calon akar.
Radikula ini akan tumbuh secara geotropisme (menuju ke bawah) untuk mencari sumber air dan nutrisi, sekaligus menjadi jangkar pertama bagi tanaman yang baru lahir tersebut.
4. Diferensiasi Tunas dan Munculnya Plumula
Seiring dengan penguatan sistem akar, bagian atas embrio yang disebut plumula akan mulai tumbuh menembus permukaan tanah.
Ini adalah momen kritis di mana tanaman mulai beralih dari ketergantungan pada cadangan makanan di dalam biji menjadi produsen energinya sendiri.
Tunas awal ini biasanya berwarna kemerahan atau ungu pucat, yang merupakan adaptasi protektif terhadap sinar matahari yang terik.
Pada tahap ini, kelembaban media harus dijaga secara konsisten namun tidak boleh terlalu basah untuk menghindari damping-off atau busuk pangkal batang.
5. Perkembangan Daun dan Aktivitas Fotosintesis
Setelah plumula mencapai ketinggian tertentu, daun-daun pertama akan mulai berkembang dan melebar.
Warna daun yang awalnya kemerahan akan perlahan berubah menjadi hijau tua seiring dengan pembentukan klorofil yang intensif.
Aktivitas fotosintesis yang mandiri dimulai pada tahap ini, di mana tanaman mulai mengubah energi cahaya menjadi karbohidrat untuk mendukung pertumbuhan batang utama.
Struktur daun mangga yang berbentuk lanset berfungsi optimal dalam menangkap cahaya matahari di lingkungan tropis yang kompetitif.
6. Fase Pembentukan Bibit Mandiri
Memasuki bulan kedua atau ketiga, bibit mangga telah memiliki sistem perakaran yang bercabang dan batang yang mulai mengayu (lignifikasi).
Tanaman sudah tidak lagi bergantung pada cadangan makanan dari biji asalnya. Pada fase ini, pohon muda mulai menunjukkan karakter morfologi aslinya.
Perawatan intensif seperti pemupukan nitrogen dan perlindungan dari hama daun menjadi prioritas utama untuk memastikan tanaman memiliki struktur tajuk yang kuat sebelum nantinya siap dipindahkan ke lahan permanen atau dijadikan batang bawah (rootstock) untuk proses penyambungan (grafting).

.png)
Posting Komentar