Minggu, 29 Mei 2016

Tentang Vertikultur

Berasal dari  bahasa  Inggris,  yaitu  vertical  dan  culture, jadi vertikultur adalah sistem budidaya pertanian yang dilakukan secara vertikal atau bertingkat,  baik  indoor  maupun  outdoor.  Sistem  budidaya  pertanian ini cocok sekali bagi warga perkotaan ataupun yang tidak memiliki lahan luas.  Misalnya,  lahan  1  meter mungkin  hanya  bisa  untuk menanam  5 batang  tanaman,  dengan  sistem  vertikal  bisa  untuk sekitar 20  batang  tanaman.  Vertikultur tidak hanya sekadar kebun vertikal, namun ide ini akan mendorong seseorang untuk menciptakan  khasanah  biodiversitas  di  pekarangan  yang  sempit  sekalipun.  Dengan cara vertikal,  memudahkan  pengguna  membuat  dan  memeliharanya.  Pertanian  vertikultur tidak  hanya sebagai  sumber  pangan  tetapi  juga  menciptakan  suasana   alami  yang seru.

Model,  bahan,  ukuran,  wadah  vertikultur  sangat  banyak, tergantung kondisi dan keinginan. Pada umumnya berbentuk persegi panjang, segi tiga, atau dibentuk mirip anak tangga, dengan beberapa undak-undakan atau sejumlah rak.  Bahan  dapat  berupa  bambu  atau  pipa  paralon, kaleng  bekas,  polybag pun juga bisa.

Kelebihan  dari  vertikultur  adalah  kuat  dan mudah  dipindah-pindahkan. Tanaman yang akan ditanam sebaiknya  disesuaikan dengan kebutuhan dan memiliki nilai ekonomis tinggi, berumur  pendek, dan berakar pendek. Tanaman sayuran yang sering dibudidayakan secara vertikultur antara lain  selada, kangkung, bayam, pakcoy, caisim (sawi), katuk, kemangi, tomat, pare, kacang panjang, mentimun  dan tanaman sayuran daun lainnya.

Untuk  tujuan  komersial,  pengembangan  vertikultur  ini  perlu  dipertimbangkan aspek ekonomisnya agar biaya produksi jangan sampai melebihi pendapatan dari hasil penjualan tanaman. Sedangkan untuk hobi, vertikultur dapat dijadikan sebagai media kreativitas dan memperoleh panenan yang sehat dan berkualitas.

Vertikultur dapat dikatakan sebagai teknologi alternatif sistem pertanian. Sistem vertikultur mengambil prinsip-prinsip dasar bercocok tanam, yakni menyediakan media tanam dengan kandungan nutrisi yang diperlukan oleh tanaman. Kalau selama ini sistem pertanian konvensional, menanam langsung dilakukan di atas hamparan lahan pertanian secara horizontal, sebaliknya, sistem vertikultur menggunakan bantuan media secara vertikal.

Sekilas mungkin cara menanamnya cukup sulit dan rumit, tapi sebenarnya tidak begitu juga. Cara memakainya sama persis seperti teknik bercocok tanam konvesional, hanya saja tampatnya berada di undakan. Tingkat kesulitannya tergantung pada bentuk, teknik, sistem yang digunakan.


Ada 2 jenis vertikultur, yaitu:


Vertikultur Konvesional



Menggunakan tanah untuk media tanamnya. Cara penanamannya sama seperti ketika anda menggunakan polybag/pot pada umunya, hanya saja media tanam dan tanamannya disusun secara vertikal. Penyiraman serta pemupukan tanaman bisa di kreasi sendiri.




Vertikultur Hidroponik




Merupakan perpaduan antara vertikultur dan hidroponik. Media tanamnya tidak menggunakan tanah seperti biasanya, melainkan seperti cocopeat, arang sekam, rockwoll, perlite, dll.


Hal-hal yang harus diperhatikan untuk vertikultur adalah bahan yang kuat agar tidak mudah roboh tapi juga mudah untuk dipindah. Media tanam yang digunakan juga harus tanah yang gembur dan memiliki kandungan yang dimiliki unsur hara. Sebagian besar tumbuhan memerlukan sinar matahari untuk proses fotosintesis, jadi pastikan juga tempat vertikulturnya cukup untuk cahaya mataharinya.


Kami juga menyediakan plastik polybag untuk penanaman. Ukuran dapat minta sesuai keinginan. Untuk info lebih lengkap tentang penjualan plastik polybag, silahkan buka saja di Penjualan Plastik Polybag.



2 komentar: